• Siva Ratri, “para pendosa :-)” yang berusaha kembali ke jalan terang-NYA

    by  • 22/01/2012 • Personal Life, Spiritual • 

    Salah satu tempat favorit ketika pulang ke Bali adalah mengunjungi toko buku Gramedia, alasannya cuman 1 : tersedia buku agama Hindhu yang lebih lengkap daripada Gramedia di luar Bali. Buku yang most wanted saat itu adalah buku “Bhagavad Gita menurut aslinya” karya Sri Srimad A.C Bhaktivedanta Swami Prabhupada, akhirnya terbeli juga :-) Good Read dari sekian yang saya baca saat itu adalah buku Siva Purana Vol.1 (penerbit paramita surabaya) yang diterjemahkan/alih bahasa oleh Gede Oka Sanjaya. Buku setebal 460-an halaman tersebut hanya terbaca sekilas dan saya pikir sudah membeli buku Bhagavad Gita yang cukup tebal, mungkin buku Siva Purana tersebut tidak akan kebaca, jadi keputusan saat itu ditunda dulu.

    Begitu tiba di Bandung kembali di awal tahun, dan melihat kalender 2012 ternyata tanggal 22 Januari 2012 adalah hari Siva Ratri. Wah…sayang saya pikir saat itu enggak beli buku Siva Purana. Solusi saat itu adalah menelphone Mr. Kadek Sila Yoga, ex-parther programmer di Circle K Bali dan nitip beli buku tersebut dengan pesen urgent : “buku tersebut harus nyampe di Bandung sebelum Siva Ratri Bro…”, dan beberapa hari sebelum Siva Ratri buku tersebut sudah berada di tangan.

    Banyak makna mengenai Siva Ratri, terutama mengenai penebusan dosa. Malam Siva Ratri identik dengan malam penebusan dosa. Tetapi mungkinkah dosa bisa ditebus hanya dalam satu malam ? Dosa adalah hasil perbuatan (karma) yang harus tetap ditebus oleh akibat (phala). Dalam Siwarati umat manusia berusaha menyadarkan diri sehingga terhindar dari papa (kegelapan pikiran dan jiwa) seperti yang tertuang dalam puja tri sandya “Om papo’ham papakarmaham papatma papasambhavah“  yang pada akhirnya akan menghindarkan manusia dari segala perbuatan dosa. Dalam diri manuasia bersemayam tuhan beserta sifat – sifat ketuhanan, namun seiring perjalanan hidup, kegelapan dan ilusi duniawi membuat manuasia semakin lupa akan asal dan jati diri. (sumber : Ida Pedanda Gunung)

    Siva Purana merupakan salah satu sumber ajaran Siva Ratri. “Di antara berbagai Brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa (pertapaan) dan melakukan berbagai kegiatan Japa (mengucapkan berulang-ulang nama-nama-Nya atau mantra untuk memuja keagungan-Nya), semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Shivarātri. Demikian keutamaan Brata Shivarātri, hendaknya Brata ini selalu dilaksanakan oleh mereka yang menginginkan keselamatan dan keberutungan. Brata Shivarātri adalah Brata yang sangat mulia, agung yang dapat memberikan kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan bathin (Shastri, Shiva Purana, Koti Rudrasamhita, XL. 99-101,Vol.3, Part III, p. 1438). Kutipan-kutipan lain mengenai Siva Ratri dalam kitab Siva Purana juga banyak disebutkan seperti dikutip di http://filsafat.kompasiana.com/2012/01/17/sivaratri-di-india-dan-di-bali-sebuah-kajian-banding

    Jika di Indonesia (kitab Sivaratrikalpa) kisah Lubdaka (Sang Pemburu) diidentikkan dengan kisah malam Siva Ratri, dalam Siva Purana juga disinggung mengenai cerita-cerita sejenis (walaupun bukan mengenai malam Siva Ratri) seperti kisah Devaraja, seorang Brahmana yang tinggal dikota Kirata yang biasa menjual minuman keras, tidak mempunyai disiplin spiritual, menipu orang demi material maupun membunuh para brahmana lain. Yang pada suatu ketika mengalami sakit dan tertidur di kuil Siva yang pada saat itu sedang dibacakan kitab Siva Purana oleh para pemuja Siva. Demam tinggi, akhirnya Devaraja meninggal dan dijemput oleh para pelayan Yama menuju neraka, akan tetapi disaat bersamaan muncul para pelayan Siva yang menariknya ke alam surga (Siva Loka), dikarenakan sudah mendengarkan cerita Siva Purana, cerita yang paling suci diantara yang suci, yang hanya dengan mendengarkan saja, orang akan terhapus dosanya yang paling besar sekalipun, untuk mencapai pembebasan. Kisah lain yang diceritakan dalam Siva Purana, adalah pembebasan Cancula dan suaminya (Binduga) dari dosa, karena rasa bhaktinya saat mendengarkan cerita Siva Purana.

    Siva Ratri dan Siva Purana memang tidak dapat dipisahkan maknanya. Seperti kutipan seorang teman : “Siva Ratri – Dari Kegelapan (Ratri) Menuju Terang Kembali (Siva)”

    “Om Tryambhakam Yajamahe, Sugandhim Pushtivardhanam, Urvarukamiva Bandhanan, Mrityor Mukshiya Ma amritat”

    “Om Sembah Sujud kepada Dewa Siwa yang bermata tiga, Yang mengayomi dan menebarkan keharuman pada kehidupan kita. Semoga Beliau membebaskan kita dari penderitaan, dan kegelapan menuju cahaya abadi”

    Did you like this? Share it:

    No related posts.

    About

    2 Hal yang tidak dapat saya percaya sampai sekarang adalah cita-cita waktu kecil : PERTAMA : Menjadi kondektur halilintar KEDUA : Bisa membeli sungai dibelakang rumah

    http://www.madecerik.net

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *